Mantan Anggota Parlemen Rusia, "Islam Mengisi Kekosongan Hatiku"

Setelah memeluk Islam pada tahun 1994, mantan anggota parlemen Rusia ini menggunakan nama islami Fatimah Abdur Rasheed. Ia lalu menunaikan ibadah haji dan mendalami agama Islam dengan belajar di jurusan studi Islam, Universitas Kazan, Republik Tartaristan.
Fatimah mengungkapkan setelah memeluk Islam, ia merasakan sebuah "revolusi" dalam dirinya. Aktivitas sosial Fatimah, membuatnya dikenal masyarakat sehingga mudah baginya terpilih sebagai anggota parlemen Rusia. Tapi Fatimah mengaku selalu merasakan kekecewaan yang mendalam dalam hatinya.
"Saya merasa ada yang kosong dalam diri saya. Maka, sejak awal saya menegaskan harus mengisi kekosongan itu dengan bimbingan dari Allah Swt. dan Islam menjadi agama yang saya pilih," ujar Fatimah menceritakan awal dirinya masuk Islam.

Namun, setelah mengucap dua kalimat syahadat, Fatimah menghadapi tantangan baru yang lebih berat. Ia diboikot oleh suami dan seluruh anggota keluarganya. Tapi hal itu tidak menggoyahkan tekad Fatimah untuk tetap menjadi seorang muslimah. Ia berusaha tegar dan ketegarannya di kemudian hari berbuah manis, karena kakak perempuan dan anak laki-laki Fatimah akhirnya juga memutuskan untuk masuk Islam.
Empat tahun kuliah di jurusan studi Islam, Universitas Kazan, Fatimah belajar hadis, sirah, hukum Islam dan tentu saja Al-Quran. "Setiap kali membaca Quran, hati saya membuncah dengan perasaan ingin bertobat atas kehidupan saya di masa lalu, yang saya lewati tanpa karunia Allah. Penjelasan tentang surga dan neraka dalam Al-Quran, membuat imajinasi saya melambung tinggi ke langit," tutur Fatimah.
Sebagai seorang muslimah, Fatimah pelan-pelan juga mengubah cara berbusananya dengan mengenakan busana muslimah. Lagi-lagi ia menghadapi tekanan berat dari berbagai lapisan masyarakat di Rusia. "Tapi, sejak saya memutuskan untuk memeluk Islam secara penuh, saya hadapi semua tekanan itu," tukas Fatimah.
Tapi sebenarnya yang membuat Fatimah memutuskan masuk Islam? Menurut Fatimah, awal ketertarikannya pada Islam bermula pada tahun 1994, ketika ia pertama kalinya mendengar suara azan. Suara azan itu membuat badannya gemetar. Ia mencari tahu apa itu azan dan arti kalimat yang dikumandangkan dalam azan. Tapi, berbagai informasi yang bias tentang Islam. membuat Fatimah khawatir dan ragu untuk mendalami Islam, apalagi berpikir untuk masuk Islam.
Meski masih merasa ragu, Fatimah membaca riwayat tengan kehidupan Nabi Muhammad Saw, namun ia masih belum berani menyentuh Al-Quran karena ia merasa masih tidak pantas untuk menyentuh kitab suci kaum Muslimin itu. Perlahan-lahan, keberanian Fatimah muncul, ia menemukan Al-Quran adalah cermin dari kehidupan masyarakat islami dan ia tidak ragu lagi untuk lebih mendekatkan diri pada Islam.
"Alhamdulillah, perasaan ragu itu seketika hilang, dan berganti dengan kepuasan batin setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Allah Swt telah menganugerahkan hidayahnya yang istimewa buat saya. Saya merasa damai hidup dengan Islam," ujar Fatimah.
Tak lama setelah bersyahadat, pada tahun yang sama, 1994, Fatimah menunaikan ibadah haji. "Mekkah membuat saya terkagum-kagum. Melihat orang tawaf mengelilingin Kabah adalah kenangan tak terlupakan. Saya sangat terkesan melihat persaudaraan muslim seluruh dunia saat menunaikan ibadah haji," ungkap Fatimah.
Ia juga mengaku terkesan karena selama berhaji, ia tidak pernah melihat satu orang pun pengemis di kota Mekkah. Kota Mekkah juga tetap terjaga kebersihannya meski jutaan orang memadati kota itu saat musim haji. "Mekkah menjadi magnet yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana, untuk memperbarui keimanan dan spiritual saya. Ibadah haji membuat hati saya tenang dan damai," sambung Fatimah.
Ditanya mengenai generasi muslim baru di Rusia, Fatimah mengungkapkan keprihatinannya karena banyak generasi muda muslim di Rusia sekarang ini yang enggan menikah. Salah satu penyebabnya, kata Fatimah, karena faktor ekonomi.
"Kondisi keluarga di Rusia, bisa dibilang rata-rata buruk. Banyak kaum ibu di Rusia yang harus bekerja sehingga tidak bisa memberikan perhatian yang cukup pada anak-anak mereka. Jika mereka tidak bekerja, keluarga di Rusia hanya mengandalkan pemasukan hanya dari suami, yang tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Itulah sebabnya, generasi muslim baru di Rusia, banyak yang tidak mau menikah dan cenderung menghindari tanggung jawab berkeluarga," papar Fatimah. (kw/TTT)

Komentar