Ibu Juara Dunia No 1


Oleh Kiptiah


Tadi pagi saya melihat perempuan setengah baya yang berpakaian ketat bak anak muda dan makeup yang cukup tebal. Saya taksir usianya jauh lebih muda dari Ibu saya, tapi dari garis wajahnya nampak perempuan itu terlihat lebih tua. Apakah faktor makeup yang terlalu tebal atau pakaian yang terlalu ketat. Bukan bermaksud untuk membandingkannya dengan Ibu saya. Bukan pula mengkritik penampilannya yang tidak sesuai syari’at, hanya saja saya ingin berucap "alhamdulillah" yang tanpa henti karena Allah telah menganugerahkan seorang Ibu yang luar biasa kepada saya.
Dulu, prilaku saya tak jauh berbeda dengan anak lain di masa kecil dan menginjak remaja, nakal dan suka menentang orang tua terutama Ibu saya. Sikap pemberontak yang tumbuh pada diri remaja membuat saya seringkali mengabaikan perkataan Ibu saya meskipun tidak sampai berlebihan.
Namun waktu memberikan penyadaran kepada saya, seiring bertambahnya usia dan pemahaman saya akan agama dan kehidupan yang telah dan akan dilalui. Ketika mata hati saya mulai terbuka, bahwa selama ini ada sosok perempuan mulia yang seringkali saya abaikan dan tinggalkan untuk kesIbukan saya sendiri. Perempuan mulia itu, yang rambutnya kini telah ditumbuhi uban dan raut wajahnya yang tak sehalus dahulu masih saja menunjukkan ketulusannya sebagai seorang istri dan seorang Ibu. Meskipun terkadang balasan dari ketulusannya itu adalah sikap tak acuh dari saya.
Sayapun menyesal ketika mengingat bahwa dulu saya seringkali menyakiti hatinya hingga menangis karena perbedaan pendapat di antara kami. Saya berusaha memperlakukannya dengan baik sesuai kemampuan saya.

Pujian yang tak terhingga kepada Rabb semesta alam kini terus terpatri di sanubari, anugerah keindahan duniawi dan ukhrawi yang nampak samar namun begitu terasa kehangatannya. Sesosok Ibu yang sederhana yang tidak pernah silau akan kemegahan dunia. Tatkala banyak Ibu-Ibu lain yang memiliki tuntutan tinggi kepada anak-anaknya untuk dibelikan baju dan makeup ataupun makanan kesukaannya dan hal-hal keduniawian lainnya, tapi tidak dengan Ibu saya. Baginya apa yang ada, syukurilah. Nikmatilah apa yang ada dan tidak perlu mengada-adakan apa yang tidak ada. Walaupun kadangkala saya sering merasa kesal tatkala tidak di izinkan membeli baju baru dengan alasan stok baju saya banyak dan masih bagus-bagus. Tapi akhirnya saya menyadari, perbedaan antara nafsu dan kebutuhan. Seringkali nafsu itu memaksa saya untuk terus membeli barang yang kurang berguna meskipun sebenarnya barang tersebut masih layak pakai.
Siti Kalimah, demikian nama perempuan yang mengandung saya selama sembilan bulan dalam rahimnya dengan berletih-letih dan kemudian berjuang mempertaruhkan nyawanya demi kehadiran saya di dunia ini. Ibu saya memiliki empat orang anak dan saya adalah bungsu perempuan dengan tiga kakak laki-laki. Karena itulah saya yang paling dekat dengannya.
Kasih sayangnya luar biasa. Bahkan hingga sebesar sekarang, perlakuannya masih saja seperti memperlakukan anak-anaknya layaknya anak kecil. Ia tak akan bisa makan enak, manakala anaknya tidak ikut mencobanya. Sedikit pun yang makanan yang ia dapat dari suatu acara, pasti akan di bawa pulang untuk di makan anak-anaknya. Ia tak akan bisa tidur, manakala anaknya belum pulang dan tak ada kabar. Ia tak akan bisa tenang, bila terjadi sesuatu dengan anak-anaknya. Ia tidak akan segan turun tangan bila ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Kemarin, ketika hari raya Idul Adha, alhamdulillah kami mendapat bagian daging yang cukup banyak. Karena rasa kasih sayangnya yang begitu tinggi, dia pun membagikan daging yang telah di masak kepada abang saya yang telah menikah dan bertempat tinggal di daerah Bekasi dan Tangerang dengan datang langsung kesana. Jarak yang lumayan jauh dari kediaman saya di daerah Grogol. Dan jarak bukan jadi penghalangnya ketika ia bisa menumpahkan segala kekhawatirannya memikirkan apakah anaknya ikut menikmati daging qurban atau tidak. Terdengar sepele tapi memiliki makna yang sangat dalam bagi saya.
Saya sempat berfikir, Subhanallah. Ibu saya tidak lagi muda, usianya sudah mencapai setengah abad lebih, namun perhatiannya kepada anak-anaknya membuat saya tersentuh. Saya pun berfikir, saya ingin menjadi seperti dia kelak.
Bagi saya, dia adalah sosok perempuan shalihah yang taat pada Suami. Selalu sabar dan bersyukur dengan apa yang ia terima. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menunjukkan kekurangan yang sedang di alami ataupun kesedihan yang sedang di rasa. Sosok perempuan desa perkasa yang tak pernah melemahkan dirinya sendiri. Sosok perempuan mandiri yang akan melakukan sesuatu sendiri selagi ia mampu. Sikapnya yang ramah dan penuh ketulusan khas wanita jawa, membuat ia banyak di sukai. Ia merupakan sosok yang mudah bergaul dan ringan tangan.
Memang manusia tak pernah lepas dari khilaf dan salah, namun dengan banyaknya kelebihan yang dimiliki Ibu saya sebagai seorang wanita seakan tak mampu untuk mengurangi rasa syukur saya karena di anugerahi seorang Ibu seperti beliau.
Darinya saya pertama kali mengenal bagaimana cara sholat, belajar puasa di usia lima tahun dan membaca al-Qur’an. Darinya saya mulai mengenal angka, huruf dan berhitung. Darinya saya belajar bagaimana mensyukuri hidup. Darinya pula saya belajar bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan Ibu yang selalu di cintai anak-anaknya.
Semoga saya mampu menjadi penyejuk hati beliau dan dapat membahagiakannya dengan izin Allah. semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan kasih sayangNya kepada beliau. Aamiin.
Ini adalah puisi yang saya dedikasikan kepada Ibu saya tercinta:
Dia tak mengenal cinta
Namun sedalamnya makna telah tergores
Wujud kesetiaan nan abadi
Cermin luhur prilaku masa lalu

Hatinya sedalam samudera
Sebongkah misteri tiada terpecah
Hanya bahagia tersirat
Sedang duka entah kemana

Bagai berlian di bebutiran pasir pantai
Bersinar meski terabaikan
Sungguh tak akan padam
Di hati para kaum tiran

Keluguan wanita ayu
Tak terbalut tirai palsu
Gilasan roda-roda zaman
Dia mampu bertahan

Sebuah ketulusan terpancar
Hanya ingin bersinar
Bilakah gelap
Hanya dia seorang

Untaian kata-kata terindah
Terhaturkan untuknya seorang
Cinta kasih sepanjang zaman
Tak terbalas intan berlian
rainkelana@yahoo.com

Komentar